Kritik Film Merah Putih: Mengapa ‘One for All’ Tuai Sorotan?
Film animasi “Merah Putih: One for All” seharusnya menjadi perayaan 80 tahun kemerdekaan RI. Namun, karya ini justru menuai badai kritik dari berbagai kalangan. Banyak pihak, mulai dari anggota DPR hingga warganet, menyoroti kualitas visual hingga judulnya yang dinilai tidak konsisten.
Mari kita bedah alasan di balik ramainya kritik terhadap film animasi ini.
Kualitas Visual Dianggap Gagal Total
Salah satu kritik utama datang dari kualitas visualnya. Warganet ramai-ramai menyuarakan kekecewaan. Menurut Metro TV News, visual film ini bahkan disamakan dengan presentasi PowerPoint anak sekolah dasar. Warna yang digunakan dinilai aneh dan terkesan asal-asalan.
Animasi 3 dimensi juga dianggap kurang memuaskan. Selain itu, dialognya disebut mirip dengan konten drama TikTok. Jadi, meski narasi kebangsaannya kuat, eksekusinya dinilai jauh dari harapan.
Judul Berbahasa Asing Melanggar Semangat Nasionalisme
Kritik tajam lain datang dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Mereka menyoroti judul film yang paradoks. Film bertema kebangsaan ini memakai judul berbahasa Inggris, yaitu “One for All“.
Badan Bahasa berpendapat, nasionalisme tidak hanya sebatas bendera Merah Putih. Nasionalisme juga mencakup penghormatan terhadap bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa asing di judul film bertentangan dengan esensi nasionalisme itu sendiri. Aturan ini bahkan tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009.
Sorotan dari Anggota DPR
Kontroversi film animasi Merah Putih juga sampai ke Senayan. Anggota DPR Lalu Hadrian Irfani mengapresiasi ide film ini. Namun, ia tidak menutup mata terhadap kekecewaan publik pada kualitas visualnya.
Di sisi lain, anggota DPR Ilham Permana menyoroti anggaran produksi yang kabarnya mencapai Rp6,7 miliar. Ia mempertanyakan kualitas yang dihasilkan, mengingat biaya yang besar. Keduanya sepakat bahwa kritik publik harus menjadi evaluasi penting bagi industri kreatif Indonesia.
Sebagai kesimpulan, kritik terhadap film “Merah Putih: One for All” mencakup banyak aspek. Ini menjadi pelajaran berharga bagi sineas Indonesia. Tidak hanya narasi, kualitas eksekusi dan konsistensi terhadap nilai yang diusung juga sangat penting untuk meraih apresiasi.